- Back to Home »
- artikel »
- AKU BENCI HARUS JUJUR MENGENAI INI
Posted by : Unknown
Sabtu, 30 November 2013
Sejak
awal, ketika tubuh tegapmu menjegatku, aku sudah mereka-reka banyak jawaban di
kepala. Saat sosokmu mulai kuasai pandangan, aku tahu ada sesuatu yang berbeda
dalam dirimu. Kamu lebih sering berjalan dan berkeliling sambil melipat tangan
di depan dada. Wajahmu dilipat sedemikian rupa hingga terlihat jutek dan cukup
tampak menyebalkan. Hidung mancungmu lebih sering jadi pusat pandangan, dan betapa
aku benci harus jujur mengenai hal ini— kamu sangat memabukkan.
Tubuhmu mematung di depan mereka
yang mengagumi kewibawaanmu. Kamu cukup mengunci mulut, tanpa membentak dan
mereka semua mengerti apa yang kaumau. Dari yang kulihat, kamu bukanlah sosok
yang pantas diabaikan. Maka, kuputuskan untuk terus menatapmu diam-diam,
meskipun kausibuk dengan banyak hal yang tak berhubungan denganku.
Berkali-kali kau melangkahkan kaki,
ke sana-ke mari, dari sudut sana hingga sudut sini, berpindah ke banyak sisi—
kaurenggut semua rasa peduli. Sesekali kaubertanya pada mereka, namun suaramu
tak kunjung terdengar olehku. Suasana riuh hamburkan segalanya, meskipun
terdengar berantakan, tapi nyatanya aku masih tak ingin melepas pandanganku
dari gerak-gerik tubuhmu. Kuperhatikan caramu menggerakan bibir, menggerakan
tanganmu, juga saat kaugerakan tubuhmu. Kamu tak pernah luput dari rasa
penasaranku. Kaurebut kewarasanku hingga menyentuh titik kulminasi. Aku belum
ingin meledak, aku masih ingin melihat sosokmu bergerak.
Langkahmu anggun, pelan, tapi pasti.
Terarah namun tak tergesa-gesa, kamu berpindah ke barisan belakang untuk
menjalankan tugas yang kauemban. Beberapa kali kauajak rekanmu berbicara, dan
itulah kali pertama senyummu terlengkung sempurna. Aku terpukau dan semakin
membabi buta, sungguh aku sangat ingin memastikan semuanya. Apakah kamu adalah
dia, yang telah kuduga-duga? Atau semua hanya khayal yang melebihi batas wajar?
Entah sudah menit yang keberapa, dan
pandanganku masih tak ingin melepaskanmu. Kamu seperti magnet dengan daya tarik
terkuat, dan aku adalah benda konduktor yang rela ditarik oleh magisnya
pesonamu. Awalnya, segalanya terasa asing, tapi denganmu semua nampak jelas.
Senyummu tak terlalu sering tampak, karena memang tugasmu adalah memasang
tampang menyebalkan. Jika kuminta sekali saja agar kau tersenyum hanya
untukku... maukah?
Aku tahu kamu tak akan sadar kalau
kuperhatikan, dan mungkin saja kamu memang tak mau tahu tentang seseorang yang
diam-diam menyimpan goresan wajahmu dalam ingatan. Iya, mungkin juga kamu tak
punya rasa peduli. Dan, aku hanya terjebak pertemuan semu yang berujung siksa,
jika yang kuharapkan terlalu tinggi untuk kugapai.
Harapanku tak terlalu tinggi, hanya
ingin kau menatapku dengan tatapan ramah dan hangat. Aku juga ingin mendengar
suaramu dan merasakan hangatnya jemarimu. Di sudut sana, kamu berdiri dengan
tatapan dingin, kepalamu diangkat kasar agar terkesan angkuh. Aku menghela
napas dan kubiarkan kaulepas. Sedetik, dua detik, tiga detik... dan kausudah
miliki tempat spesial itu; hatiku.
Selebihnya, aku tak lagi kenal hari.
Aku hanya pandai menghitung-hitung wajahmu yang kini sering muncul tiap malam.
Rambut gondrongmu yang berkilauan karena keringat dan sinar matahari jadi
bayang-bayang yang mengusik konsentrasiku. Waktuku tersita sangat lama, hanya
untuk memikirkanmu, juga pertemuan absurd kita yang terjadi tanpa sengaja.
Apa boleh aku sedikit lancang dan sok bijak menanggapi semua ini? Jika ini yang disebut takdir, maka aku belum sepenuhnya paham akan kehadiranmu dalam hari-hariku. Karena semua terjadi tanpa rencanaku dan juga rencanamu. Mungkinkah ada tangan ajaib yang sengaja mengatur langkah kaki kita agar berada di arah yang sama?
Apa boleh aku sedikit lancang dan sok bijak menanggapi semua ini? Jika ini yang disebut takdir, maka aku belum sepenuhnya paham akan kehadiranmu dalam hari-hariku. Karena semua terjadi tanpa rencanaku dan juga rencanamu. Mungkinkah ada tangan ajaib yang sengaja mengatur langkah kaki kita agar berada di arah yang sama?
Baru kali ini aku rajin menghitung
hari, hingga waktunya datang dan aku kembali bertemu denganmu lagi.
Kaukenakan jaket kuning. Kukenakan
batik dan rambut terkucir satu.